Kota Tangerang | indonesiamembangun.com – SD Negeri Petir 4, Kecamatan Cipondoh Kota Tangerang, tahun 2025 memiliki jumlah Siswa/I sekitar 625, lalu sekolah tersebut menerima dana BOS Reguler ada 2 tahap, untuk tahap 1 sekolah menerima tanggal 21 Januari 2025 sekitar Rp 300.000.000,–
Laporan Kepsek ke Kementrian terhadap Penggunaan dana BOS tahap 1 kantanya digunakan untuk : – penerimaan Peserta Didik baruRp 500.000pengembangan perpustakaan Rp 59.003.000kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler Rp 20.400.000kegiatan asesmen/evaluasi pembelajaran Rp 22.880.775administrasi kegiatan sekolah Rp 39.153.000langganan daya dan jasa Rp 9.078.460pemeliharaan sarana dan prasarana Sekolah Rp 104.995.835penyediaan alat multi media pembelajaran Rp 7.500.000pembayaran honor Rp 35.125.000, Total Dana Rp 298.636.070
Selanjutnya dana BOS tahap 2 tahun 2025 pihak sekolah belum melapor kannya, hal tersebut dikatakan oleh Iqbal selaku Mahasiswa Fakultas Hukum di Provinsi Banten yang juga Sekretaris Umum LBH BPPKB Provinsi Banten, dalam konfrensi pers nya baru – baru ini dikantor nya di daerah Kota Serang.
Ditambahkan Iqbal, Kepala Sekolah wajib melaporkan penggunaan Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI melalui sistem aplikasi pengelolaan Dana BOS. Pelaporan ini dilakukan secara berkala (biasanya per tahap) sesuai ketentuan, dan jika sekolah tidak bisa melaporkan secara online, pelaporan dapat dilakukan secara manual, mengapa Kepala Sekolah Wajib Melaporkan Dana BOS ? – Laporan ini penting untuk memastikan dana BOS digunakan secara akuntabel dan transparan., –Pelaporan merupakan salah satu syarat pencairan dana BOS tahap berikutnya., Laporan yang akurat menjadi dasar bagi Kementruan untuk melakukan audit dan evaluasi guna perbaikan kebijakan pendanaan sekolah.
Tahun 2024 SD Negeri Petir 4, memiliki jumalh Siswa/I sekitar 632, lalu dana BOS sekolah terima ada 2 tahap, untuk tahap 1 sekolah terima tanggal 18 Januari 2024 Rp 303.360.000,– lalu dana BOS tahap 2 sekolah terima tanggal 12 Agustus 2024 Rp 303.360.000,–
Lalu laporan Kepala SD Negeri Petir 4, ke Kementrian katanya dana BOS tahap 1 tahun 2024 digunakan untuk : – penerimaan Peserta Didik baru Rp 450.000pengembangan perpustakaan dan/atau layanan pojok baca Rp 72.313.500pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan bermain Rp 9.067.500pelaksanaan kegiatan evaluasi/asesmen pembelajaran dan bermain Rp 38.804.725pelaksanaan administrasi kegiatan Satuan Pendidikan Rp 54.794.375pengembangan profesi pendidik dan tenaga kependidikan Rp 1.732.500langganan daya dan jasa Rp 4.062.500pemeliharaan sarana dan prasarana Rp 106.737.590, Total Dana Rp 287.962.690
Laporan Kepala SD Negeri Petir 4, ke Kementrian katanya dana BOS tahap 2 tahun 2024 digunakan untuk : – penerimaan Peserta Didik baru Rp 4.200.000pengembangan perpustakaan dan/atau layanan pojok baca Rp 25.165.700pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan bermain Rp 25.077.500pelaksanaan kegiatan evaluasi/asesmen pembelajaran dan bermain Rp 33.271.325pelaksanaan administrasi kegiatan Satuan Pendidikan Rp 42.544.107pengembangan profesi pendidik dan tenaga kependidikan Rp 8.662.500langganan daya dan jasa Rp 8.664.890pemeliharaan sarana dan prasarana Rp 97.046.288penyediaan alat multimedia pembelajaran Rp 40.000.000pembayaran honor Rp 34.125.000, Total Dana Rp 318.757.310
Berangkat dari laporan diatas, LBH BPPKB Banten telah melakukan invesitgasi dilapangan faktanya ditemukan diduga Kepsek merekayasa laporannya ke Kementrian hal ini dapat merugikan keuangan Negara alias diduga ada korupsinya.
Sebut saja terhadap pengembangan perpustakaan dan/atau layanan pojok baca tahun 2024 yang menyerap dana BOS sekitar Rp.97 Juta lebih diduga laporan Kepsek ke Kementrian direkayasa hal ini berdasarkan ketarangan berbagai pihak baik sumber yang ada disekolah maupun pihak lainnya sepertinya pihak sekolah bekerjasama dengan distributor, yang mana distributor terbitkan Kwitansi pembelian atau faktur pembelian serta berita acara penyerahan barang / buku yang direkayasa atau di mark up.
Lalu, terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan bermain SERTA pelaksanaan kegiatan evaluasi/asesmen pembelajaran dan bermain yang menyerap dana BOS tahun 2024 yaitu sekitar Rp.106 Juta lebih, diduga dikorupsi Kepsek, adapun modus dugaan korupsi terhadap kegiatan tersebut yaitu membuat laporan kegiatan fiktif seolah – olah kegiatan terlaksana padahal faktanya tidak ada sama sekali.
Selanjutnya terhadap pemeliharaan sarana dan prasarana 2024 yang meneyerap dana BOS sekitar Rp.203 Juta lebih, fakta dilapangan tidak terlihat jelas apa – apa saja Sarana Prasarana Sekolah yang dipelihara oleh Kepsek sementara informasi terkait hal itu tidak ada terlihat disekolah tersebut, modus korupsi nya yaitu Kepsek menghubungi pihak – pihak penjual barang / bahan yang ada di SIPLah lalu disepakati barang / bahan diantar atau dibayarkan jumlahnya 5 tetapi ditulis pada kwitansi atau faktur pembelian membengkak menjadi 25.
Untuk itu, dugaan korupsi dana BOS Reguler di SD Negeri Petir 4 di usut tuntas, maka, saat ini LBHK-Wartawan Banten lagi mengumpulkan alat bukti dari sumber yang ada disekolah maupun sumber yang ada diluar sekolah, bila ada pihak – pihak yang mengetahui dugaan korupsi tersebut, lembaga Kami siap menerimanya dengan cara dapat menghubungi Kami di Email : lbhbpkbbanten@gmail.com
Dipihak lain lembaga Kami akan melaporkan Kepsek ke Tipikor Polres Metro Tangerang Kota lalu ke Kejaksaan Negeri Kota Tangerang ebab diduga dalam pengelolaan dana BOS Reguler tersebut ada perbuatan melawan hukum (PMH), dengan harapan agar dugaan korupsi dana BOS regular 2024 sd 2025 di SD Negeri Petir 4 harus usut tuntas, bila terbukti maka wajib hukumnya pihak yang terlibat diduga korupsi dimasukkan ke penjara, tegas Syahrul.
Media ini berupaya konfirmasi ke SD Negeri Petir 4, dengan mendatangi sekolah tersebut, namun sangat disayangkan belum bisa bertemu dengan Kepsek, beberapa Orang Tua Murid yang ditemui media ini disekitar sekolah mengatakan bahwa Kepsek tidak transparan menggunakan dana BOS, lalu Komite Sekolah juga tidak terbuka dan Tim BOS sekolah apakah ada atau tidak kami tidak mengetahui, ujar beberapa Ortu Siswa.(Har/Tim/Red)













